Sumber: Radar Sukabumi
Upaya penanganan sampah berbasis kewilayahan terus menjadi perhatian serius di berbagai wilayah. Salah satu langkah konkret terlihat saat rombongan warga RW 2 Kelurahan Gunungpuyuh melakukan kunjungan study tiru ke RW 03 Kelurahan Subangjaya, Kota Sukabumi, guna mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu yang dinilai berhasil menekan volume residu hingga hampir 70 persen.
Kunjungan RW 2 ini, menjadi momentum penting untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta inovasi dalam pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan. RW 03 Kelurahan Subangjaya sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang berhasil membangun sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat.
Lurah Jumyati menjelaskan, keberhasilan pengelolaan sampah di wilayahnya tidak terlepas dari inovasi yang dibangun bersama masyarakat. Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus lahir dari kesadaran kolektif warga di tingkat lingkungan terkecil.
“Untuk penanganan sampah berbasis kewilayahan, Kelurahan Subangjaya telah mewujudkan beberapa inovasi. Salah satu yang cukup menonjol ada di RW 03, di mana pengelolaan sampah organik dan non-organik dilakukan secara baik dan mampu mengurangi residu hampir 70 persen,” kata Jumyati kepada Radar Sukabumi, Jumat (26/6).
Ia menuturkan, sistem pengelolaan tersebut berjalan melalui keterlibatan aktif SATGASIH, sebuah satuan tugas kebersihan lingkungan yang dibentuk langsung oleh pengurus RW 03. Tim ini terdiri dari enam orang yang setiap hari bekerja sejak pagi buta untuk memastikan proses pengangkutan dan pemilahan sampah berjalan maksimal.
“Setiap hari, tepat pukul 5.30 WIB, SATGASIH mulai bergerak dari rumah ke rumah atau door to door untuk mengambil sampah milik warga. Pola ini cukup efektif karena memastikan sampah tidak menumpuk dan langsung masuk ke proses pemilahan sejak awal,” ujarnya.
Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian dipilah menjadi dua kategori utama, yakni organik dan non-organik. Untuk sampah organik, pengelolaannya dilakukan dengan cara yang cukup unik, yakni dimasukkan ke dalam lubang buis beton berukuran besar yang difungsikan sebagai tempat pengomposan.
“Dari proses itu, sampah organik perlahan diolah menjadi kompos yang nantinya akan dipanen dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lingkungan. Kompos tersebut kemudian dibagikan kepada warga untuk menyuburkan tanaman sayuran yang ditanam di pekarangan maupun pot-pot tanaman,” bebernya.
Hasil pertanian sederhana dari pengolahan kompos ini menjadi bagian dari program ketahanan pangan warga. Selain mampu menjaga kebersihan lingkungan, sistem ini juga menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Sementara itu, sampah non-organik yang telah dipilah tidak dibuang begitu saja. Sampah tersebut dikumpulkan dan dijual ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomis. Hasil penjualan kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional kebersihan maupun kegiatan lingkungan lainnya,” ucapnya.
Tak hanya fokus pada sampah, SATGASIH juga memiliki tugas tambahan yakni membersihkan lingkungan sekitar, saluran air, dan titik-titik rawan penumpukan sampah. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman bagi warga.
“Ketua RW 03 bersama para Ketua RT juga memegang peranan penting dalam menjaga konsistensi program. Mereka menjadi penggerak utama yang memastikan seluruh warga ikut terlibat dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan,” paparnya.
Dalam struktur pelaksanaannya, lurah berperan sebagai pengarah sekaligus pembina, sementara pengurus wilayah menjadi motor penggerak lapangan. Kolaborasi ini menjadi fondasi utama keberhasilan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Rombongan dari RW 02 Kelurahan Gunungpuyuh tampak antusias selama kunjungan berlangsung.
“Mereka menyimak langsung proses pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan sampah organik menjadi kompos, sembari berdiskusi mengenai kemungkinan penerapan sistem serupa di wilayah mereka,” tambahnya.
Kegiatan study tiru ini, diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mulai membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri, efektif, dan bernilai guna. Di tengah persoalan sampah yang semakin kompleks, inovasi berbasis masyarakat seperti di RW 03 Subangjaya menjadi bukti bahwa solusi bisa lahir dari lingkungan terkecil.
“Dengan semangat gotong royong dan kesadaran kolektif, Subangjaya menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar persoalan limbah, tetapi bisa diubah menjadi sumber manfaat, mulai dari menjaga kebersihan, mendukung ketahanan pangan, hingga menghadirkan nilai ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.
The post RW 2 Gunungpuyuh Study Tiru ke Subangjaya, Belajar Kelola Sampah Hingga Tekan Residu 70 Persen appeared first on Radar Sukabumi.


