
JAWA BARAT – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke fasilitas perakitan mobil listrik VinFast di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Dalam kunjungan tersebut, KDM menyoroti sejumlah persoalan strategis, mulai dari pengaturan transportasi logistik, transparansi rekrutmen tenaga kerja, hingga gagasan mengubah nasib sopir taksi listrik agar bisa memiliki kendaraan sendiri.
KDM juga meminta penjelasan manajemen terkait isu keamanan kendaraan listrik yang sempat menjadi perbincangan publik setelah insiden taksi di perlintasan kereta api Bekasi Timur.
Baca Juga : Resep Jamu Pegal Linu, Hangat dan Menyegarkan
Saat meninjau kawasan industri, KDM menegaskan bahwa kendaraan transporter berkapasitas besar milik perusahaan harus menggunakan akses jalan tol melalui Gerbang Tol Kalijati.
Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menghindari kemacetan di jalur arteri sekaligus mencegah kerusakan infrastruktur jalan akibat aktivitas kendaraan berat.
Selain persoalan transportasi, KDM turut meminta agar lingkungan di sekitar kawasan industri ditata dengan baik, bersih, dan tidak terkesan kumuh. Ia juga mengusulkan penyediaan fasilitas tempat duduk bagi pekerja yang sedang menunggu jemputan maupun beristirahat.
Baca Juga : Resep Kopi Santan Gula Aren, Minuman Creamy dengan Manis yang Pas untuk Temani Momen Santai
Persoalan ketenagakerjaan menjadi salah satu perhatian utama KDM dalam kunjungan tersebut. Ia berdialog dengan pihak HRD untuk memastikan proses penerimaan karyawan berjalan transparan dan berdasarkan kompetensi.
Pihak perusahaan menyampaikan bahwa proses rekrutmen telah terintegrasi secara daring melalui aplikasi Nyari Gawe milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
KDM pun menegaskan agar tidak ada praktik nepotisme maupun titipan dari tokoh masyarakat atau pihak internal perusahaan dalam proses penerimaan pekerja.
“Saya khawatir si A pegang 20 orang, si B pegang sekian orang karena merasa tokoh. Enggak boleh, semua harus masuk proses online berdasarkan profesionalisme,” tegas KDM.
Tingginya minat masyarakat terhadap lapangan kerja di kawasan industri tersebut juga menjadi perhatian tersendiri. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kunjungan, terdapat sekitar 200.000 pendaftar untuk kebutuhan tenaga kerja yang diperkirakan mencapai 8.000 orang pada tahun mendatang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, KDM menggagas kerja sama antara perusahaan dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Barat melalui program pelatihan prakerja.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan lulusan SMK agar memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri, sehingga peluang mereka untuk diterima bekerja semakin besar.
KDM juga mengapresiasi keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proses produksi. Mayoritas pekerja disebut berasal dari kalangan anak muda lulusan SMK dari sejumlah daerah, seperti Subang, Karawang, Cirebon, Majalengka, dan Garut.
Adapun gaji bersih pekerja disebut berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan, atau di atas upah minimum kabupaten/kota (UMK) di sejumlah daerah.
Saat meninjau lini perakitan kendaraan listrik yang disiapkan untuk armada taksi, KDM menyampaikan gagasan untuk meningkatkan kesejahteraan para pengemudi.
Ia mengusulkan skema kerja sama bisnis atau business to business (B2B) dengan melibatkan Bank BJB sebagai penyedia pembiayaan.
Melalui skema tersebut, sopir taksi diharapkan tidak lagi hanya bekerja dengan sistem setoran kepada perusahaan, tetapi memiliki kesempatan mencicil kendaraan hingga menjadi milik sendiri.
“Selama ini orang taksi itu kerja dan nyetor ke bos. Ke depan, dia sebagai tuan, difasilitasi kredit tanpa DP oleh BJB. Ini merubah sosialisme, dari pekerja menjadi pemilik, dari budak jadi tuan,” ujar KDM.
KDM berencana menjadikan Depok dan Cianjur sebagai daerah percontohan untuk pengembangan armada taksi dan angkutan kota berbasis listrik.
Meski demikian, skema pembiayaan tersebut masih berupa gagasan yang perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan dengan pihak terkait, termasuk mengenai persyaratan kredit, mekanisme kepemilikan kendaraan, dan kemampuan pembayaran para pengemudi.
Pada akhir kunjungannya, KDM meminta penjelasan teknis dari manajemen pabrik terkait insiden taksi listrik yang mengalami kecelakaan di perlintasan kereta api Bekasi Timur.
Insiden tersebut sempat memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat, termasuk rumor mengenai sistem kelistrikan kendaraan yang disebut mati secara otomatis serta pintu mobil yang terkunci ketika kendaraan berada di atas rel.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa kendaraan tersebut dilengkapi sistem perekaman data yang dapat digunakan untuk menganalisis kondisi kendaraan sebelum dan saat kecelakaan, menyerupai fungsi black box pada pesawat terbang.
Berdasarkan keterangan manajemen mengenai hasil ekstraksi data kendaraan yang mengalami kecelakaan, posisi persneling disebut berada dalam kondisi netral, sementara pedal gas terus diinjak.
Penjelasan tersebut disampaikan untuk menanggapi dugaan adanya gangguan teknis pada kendaraan. Namun, kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan perlu merujuk pada hasil investigasi resmi pihak berwenang dan bukti teknis yang dapat diverifikasi secara independen.
Melalui kunjungan tersebut, KDM menekankan pentingnya tata kelola industri yang tertib, proses rekrutmen yang adil, peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, serta inovasi pembiayaan yang dapat membuka peluang kepemilikan kendaraan bagi para pengemudi.
Di sisi lain, klarifikasi mengenai insiden taksi listrik di Bekasi Timur diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih utuh kepada masyarakat di tengah berkembangnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.(SE)
The post Sidak Pabrik VinFast di Subang, KDM Soroti Rekrutmen hingga Nasib Sopir Taksi Listrik first appeared on Sukabumi Ku.




