SUKABUMI — Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengungkap temuan terkait kondisi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Sukabumi yang dinilai belum memenuhi standar kelayakan dan higienitas.
Temuan tersebut disampaikan Nanik usai melakukan peninjauan langsung bersama tim pada Rabu malam (6/5/2026). Dalam kunjungannya, ia menyebut Sukabumi menjadi salah satu daerah yang cukup sering mengalami persoalan, terutama terkait gangguan pencernaan yang diduga berkaitan dengan pengolahan makanan.
“Kami meluncur ke Sukabumi karena ini termasuk daerah yang sering ada masalah, terutama gangguan pencernaan,” ujar Nanik dikutip dari postingan di akun instagramnya, Senin (11/05/2026).

Baca Juga: Truk Masuk Jurang di Cisarakan Palabuhanratu, Dua Orang Luka-luka
Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah SPPG Sukabumi Nyalindung Mekarsari. Dalam inspeksi tersebut, Nanik mengaku menemukan kondisi dapur yang memprihatinkan dan jauh dari standar higienis.
“Begitu saya turun dari mobil, saya melihat sayuran dipotong di lantai pada bagian persiapan. Ini tentu memprihatinkan. Bagaimana bisa menghasilkan makanan higienis kalau proses awalnya seperti itu,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti proses pemorsian makanan yang dilakukan di ruang yang sama dengan proses pemotongan bahan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kontaminasi.
Baca Juga: Truk Masuk Jurang di Cisarakan Palabuhanratu, Dua Orang Luka-luka
“Pemotongan dilakukan di ruang pemorsian. Ini berisiko, karena sisa sayur yang belum bersih bisa menyebabkan kontaminasi, bahkan memungkinkan ulat naik ke wadah makanan,” katanya.
Dari sisi fasilitas, dapur yang memproduksi sekitar 3.400 porsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) itu disebut memiliki ukuran yang sangat terbatas dan minim sarana pendukung.
“Dapurnya sangat kecil, hanya ada satu AC di ruang pendingin. Sementara gudang basah dan kering tidak memiliki AC. Mereka juga tidak punya gudang alat maupun gudang bahan kimia,” jelas Nanik.
Kondisi lain yang disorot adalah tidak adanya pendingin ruangan di area pemorsian, yang seharusnya menjadi standar wajib dalam menjaga kualitas makanan.
“Di ruang pemorsian yang seharusnya wajib menggunakan AC juga tidak ada. Bahkan proses pencucian wadah makanan dilakukan di ruang terbuka,” tambahnya.
Selain itu, keterbatasan peralatan juga menjadi perhatian. Dapur tersebut tidak memiliki fasilitas dasar seperti chiller, alat pengukus khusus, maupun peralatan modern lainnya.
“Mereka tidak punya chiller, tidak ada steam untuk ompreng. Jadi jangan berharap ada alat seperti pengupas telur otomatis atau vacuum,” ujarnya.
Baca Juga: Akses Terputus, Warga Ciangkrek Sukabumi Swadaya Bangun Jembatan Sementara
Dari sisi manajemen, Nanik menilai penerapan standar operasional prosedur (SOP) juga masih perlu perbaikan serius. Ia mencontohkan proses pengolahan ayam yang dinilai berisiko.
“Ayam selesai dicuci sekitar pukul 09.00, lalu akan dimarinasi. Karena tidak ada chiller, penyimpanannya hanya di ruangan yang memiliki AC. Ini tentu sangat berisiko terhadap kualitas dan keamanan pangan,” jelasnya.
BGN menegaskan temuan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan, guna memastikan program pemenuhan gizi berjalan sesuai standar dan tidak menimbulkan masalah kesehatan di masyarakat.
Hingga berita ini disusun, sukabumiku.id sudah berupaya mengkonfirmasi informasi ini kepada pengurus SPPG Nyalindung. Namun, hingga berita ini dimuat, belum ada tanggapan dari pengurus SPPG Nyalindung.
The post Sidak SPPG Nyalindung Sukabumi, BGN Temukan Pengolahan Makanan Tidak Sesuai Standar first appeared on Sukabumi Ku.



















