
SUKABUMI – Kondisi aliran Sungai Cikaso di Kabupaten Sukabumi menjadi sorotan di tengah musim kemarau. Debit air yang menyusut di sejumlah wilayah aliran sungai itu disertai kondisi air yang tampak semakin keruh dan dipenuhi lumpur.
Kondisi tersebut terlihat pada aliran Sungai Cikaso yang melintasi wilayah Kecamatan Lengkong hingga Kalibunder. Berdasarkan pantauan pada Sabtu (12/9/2026), air sungai tampak berwarna cokelat pekat dan alirannya mulai dangkal.
Kondisi serupa terlihat pada aliran yang mengarah ke wilayah Cibungur, Leuwi Sintok, Cikaler, Cimapag dan sekitarnya. Perubahan warna serta tingginya material lumpur di aliran sungai membuat aktivitas penambangan emas ilegal atau yang oleh warga disebut deplang kembali menjadi sorotan.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Cuaca Kota Sukabumi Cerah pada Senin 14 September 2026
Warga menduga aktivitas deplang menjadi salah satu penyebab keruhnya aliran Sungai Cikaso. Dugaan tersebut muncul ketika debit sungai sedang menyusut akibat kemarau, sehingga perubahan kondisi air terlihat semakin jelas.
“Seperti inilah saat ini kondisi aliran sungai wilayah Lengkong yang mengarah ke daerah Cibungur, Leuwi Sintok, Cikaler, Cimapag, dan sekitarnya. Airnya dangkal dan sangat keruh dikarenakan kegiatan penambang deplang liar,” ujar Ujang, warga Lengkong, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Ujang, persoalan kondisi sungai menjadi semakin penting karena aliran tersebut masih dimanfaatkan masyarakat di wilayah hilir. Ketika sejumlah sumur warga mulai mengering akibat kemarau, sungai menjadi salah satu sumber air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Sukabumi Expo 2026 Ditutup, Perputaran Uang Capai Rp3,2 Miliar
Sorotan terhadap aktivitas penambangan emas ilegal juga tidak hanya datang dari warga Lengkong. Dampak kondisi air disebut turut dirasakan masyarakat di wilayah Kalibunder dan Pabuaran.
Selain menghadapi air sungai yang keruh dan berlumpur, warga juga mengkhawatirkan kemungkinan adanya bahan kimia yang digunakan dalam proses pengolahan emas. Namun, belum terdapat hasil pengujian kualitas air yang dapat memastikan adanya kandungan bahan kimia berbahaya dalam aliran Sungai Cikaso.
Budi, warga Pabuaran, mengatakan kondisi sungai membuat masyarakat semakin khawatir karena air masih dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: PIT IDI Sukabumi Jadi Ruang Penguatan Kompetensi Dokter, Pemkab Tekankan Pelayanan Primer
“Kami tidak cuma pusing karena airnya keruh dan berlumpur, tapi warga juga takut air tersebut mengandung zat kimia beracun yang dapat mengganggu kesehatan,” ungkap Budi.
Bagi warga, persoalan penambangan emas ilegal juga bukan hal baru. Aktivitas tersebut disebut beberapa kali telah ditertibkan, tetapi menurut warga, kegiatan serupa kembali muncul.
“Meskipun aktivitas penambang gelap ini sudah beberapa kali dibubarkan oleh petugas kepolisian, mereka tetap saja membandel dan kembali beroperasi,” kata Budi.
Warga meminta pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum mengambil langkah lebih tegas terhadap aktivitas penambangan emas ilegal yang mereka soroti. Mereka berharap penanganan tidak hanya dilakukan melalui penertiban sementara, tetapi mampu menghentikan aktivitas yang dinilai mengganggu kondisi lingkungan sungai.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,3 Guncang Selatan Kabupaten Sukabumi
Kondisi Sungai Cikaso kini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan menyusutnya debit air akibat musim kemarau. Air yang dangkal, berwarna cokelat pekat dan dipenuhi lumpur membuat fungsi sungai bagi masyarakat di wilayah hilir ikut terdampak.
Hingga berita ini disusun, materi yang menjadi dasar pemberitaan belum memuat keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi maupun aparat penegak hukum mengenai dugaan aktivitas penambangan emas ilegal tersebut. Belum terdapat pula hasil uji laboratorium yang memastikan tingkat pencemaran atau kandungan zat tertentu dalam air Sungai Cikaso.
The post Sungai Cikaso Dipenuhi Lumpur, Aktivitas Penambangan Emas Ilegal Jadi Sorotan first appeared on Sukabumi Ku.




