
INILAHSUKABUMI.COM – Upaya kreatif warga Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dalam memulihkan lahan rusak pasca-banjir kini berbuah manis.
Bukan sekadar menanam, masyarakat setempat berhasil menyulap tanaman sereh wangi yang awalnya ditanam untuk stabilisasi ekologi menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi melalui produk minyak esensial.
Kisah inspiratif ini digagas oleh Dilah Sahim, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu sekaligus pemilik usaha Lana Tumbavani.
Ia mengungkapkan inisiatif tersebut bermula dari kekhawatiran warga terhadap kondisi lahan pertanian yang berubah menjadi hamparan pasir akibat banjir bandang berulang pasca-gempa.
Baca juga : Krisis Air Bersih Melanda Cicurug Sukabumi, Seribuan Warga Terdampak
”Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan,” ungkap Dilah dalam siaran pers diterima InilahSukabumi.com Senin (13/7/2026).
Solusi Ekologis Jadi Andalan
Pemilihan sereh wangi bukanlah tanpa alasan. Tanaman ini terbukti mampu bertahan di tanah miskin hara dan berpasir. Dengan sistem perakaran yang kuat, sereh wangi menjadi solusi efektif untuk memperkuat bantaran sungai.
Strategi ini semakin diperkuat dengan kombinasi penanaman bambu di titik-titik rawan, sehingga mampu menahan laju erosi sekaligus mengurangi dampak banjir yang selama ini mengancam pemukiman.
Bangkit dari Kerugian Pascabencana
Data menunjukkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2021, banjir di kawasan tersebut telah berdampak pada sekitar 1.365 warga. Kerugian sektor pertanian bahkan mencapai angka 70 persen, yang memukul ekonomi masyarakat kecil di Desa Pulu.
Baca juga : Penemuan Kerangka di Sagaranten Sukabumi, Pakaian Merah dan Kaus Hitam Jadi Petunjuk Utama
Namun, ketekunan dalam proses restorasi lahan kini berbalik menjadi peluang. Daun sereh wangi yang tumbuh subur di lahan pemulihan kini disuling menjadi minyak esensial berkualitas.
Melalui unit usaha desa bernama Tumbavani, produk turunan tanaman ini kini merambah pasar produk spa dan perawatan tubuh, membuktikan bahwa restorasi lingkungan yang tepat dapat menjadi kunci ketahanan ekonomi pascabencana.
Menembus Amerika Serikat
Proses produksinya menuntut kesabaran dan ketelitian. Sereh wangi membutuhkan waktu tanam awal sekitar delapan bulan sebelum panen pertama.
Setelah itu, panen dapat dilakukan setiap tiga bulan. Dari sekitar 200 kilogram daun sereh, hanya dihasilkan kurang lebih 200 mililiter minyak murni.
Tidak ada campuran aroma sintetis atau bahan tambahan lain. Rasio produksi yang sangat kecil ini menjadikan kualitas sebagai nilai utama, sekaligus membatasi volume.
Pada 2024, total produksi minyak esensial Lana Tumbavani masih jauh dari skala industri. Namun kualitas minyak tersebut menarik minat pengunjung dan pembeli dari luar Indonesia, termasuk dari Malaysia, Nepal, dan Amerika Serikat.
Usaha ini kemudian berkembang ke produk turunan lain seperti minyak pijat, sabun herbal dengan campuran bahan daun kelor lokal, lilin berbasis lilin lebah, dan parfum padat.

Usaha ini kemudian dikenal dengan nama Lana Tumbavani, yang berasal dari bahasa Kaili, di mana “lana” berarti minyak dan Tumbavani berarti “sereh”.
Setiap produk membawa narasi yang sama. Bukan sekadar wangi atau fungsi relaksasi, melainkan kisah pemulihan lahan dan keterlibatan komunitas.
Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk wellness berkelanjutan, tantangan utama Tumbavani adalah memasuki pasar tersebut tanpa mengorbankan tujuan awalnya. Pendampingan dari Gampiri Interaksi menjadi krusial dalam fase ini.
Prinsip Ekonomi Restoratif
Melalui program inkubasi GIAT 2.0, Gampiri Interaksi bekerja bersama BUMDes Pulu untuk meninjau ulang struktur biaya, kapasitas produksi, strategi harga, dan kesiapan pasar.
Fokus utamanya bukan mengejar volume, melainkan memastikan usaha ini tetap sejalan dengan prinsip ekonomi restoratif.
“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” kata Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi.
Dari sisi lingkungan, penanaman sereh wangi berkontribusi dalam menstabilkan lahan seluas kurang dari satu hektar yang sebelumnya dianggap tidak produktif.
Risiko banjir di area tertentu diperkirakan menurun berdasarkan pengamatan masyarakat setempat.
“Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga,” ujar Dilah.
Baca juga : Tercatat BMKG, Sukabumi Diguncang Gempa Empat Kali dalam 12 Jam Dirasakan Warga di Simpenan
Dari perspektif pendampingan, hubungan antara pemulihan lingkungan dan peningkatan ekonomi inilah yang menjadi inti dari ekonomi restoratif. Gampiri Interaksi menegaskan bahwa pendekatan ini sengaja membalik logika pembangunan konvensional.
“Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama,” kata Nedya.
Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mendorong terwujudnya kemandirian daerah melalui ekonomi restoratif, model yang memulihkan alam sekaligus menumbuhkan kesejahteraan.
Dengan demikian, praktik dari Desa Pulu menjadi bagian dari gerakan kolektif kabupaten lestari yang menempatkan pemulihan lingkungan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Dalam konteks agribisnis dan ekonomi desa, Lana Tumbavani menunjukkan bahwa lahan yang pernah rusak akibat banjir dapat kembali menghasilkan nilai ketika pemulihan alam dijadikan titik awal pertumbuhan.
Redaktur : Budiyanto
The post Ubah Lahan Pasca-Bencana Jadi Cuan, Warga Sigi Sukses Sulap Sereh Wangi Jadi Minyak Bernilai Tinggi first appeared on Inilah Sukabumi.




