Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI – Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, mengimbau masyarakat agar tidak terpancing melakukan panic buying di tengah berbagai informasi ekonomi yang beredar di media sosial. Ia menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak dengan mengutamakan kebutuhan prioritas dibanding membeli barang karena tren atau kekhawatiran sesaat.
Bobby menjelaskan, berdasarkan catatan tahun lalu, inflasi Kota Sukabumi mencapai 3,74 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi maupun nasional. “Inflasi di Kota Sukabumi bukan hanya dipicu harga pangan. Ada faktor lain seperti masyarakat yang berbondong-bondong membeli emas, panic buying, cukai rokok, hingga listrik. Bahkan untuk emas dan listrik, pengaruhnya berasal dari kebijakan dan kondisi global maupun nasional,” ujarnya, Selasa (9/6).
Meski demikian, Bobby memastikan kondisi inflasi saat ini masih relatif terkendali. Kota Sukabumi bahkan tercatat sebagai daerah dengan tingkat inflasi terendah kedua di wilayah Jawa-Bali. “Selama pasokan kebutuhan pokok tersedia dan subsidi pemerintah tepat sasaran, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan,” katanya.
Menurut Bobby, derasnya arus informasi di media sosial sering kali memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Ajakan investasi maupun tren pembelian barang tertentu kerap direspons berlebihan tanpa pertimbangan matang. “Kadang semua informasi di medsos langsung dipercaya. Ada yang bilang harus beli emas sekarang, harus masuk kripto, harus ikut tren tertentu. Padahal santai saja, sewajarnya saja. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan dan kemampuan masing-masing,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tingginya tingkat konsumsi masyarakat Kota Sukabumi, terutama dalam pembelian kendaraan bermotor, gawai, dan barang konsumtif lainnya. Karena itu, Bobby meminta warga mulai menerapkan pola pengeluaran yang lebih terukur dengan mengedepankan skala prioritas.
The post Wakil Wali Kota Sukabumi Imbau Warga Tak Panic Buying appeared first on Radar Sukabumi.







