
SUKABUMI – Peneliti media dan politik Buni Yani menyoroti pemberian gelar adat kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam rangkaian kunjungannya ke sejumlah daerah, termasuk penobatan sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Buni menilai prosesi pemberian gelar adat yang menyertai safari politik Jokowi perlu dicermati karena, menurut dia, berpotensi bersinggungan dengan tradisi dan budaya lokal.
“Yang paling berbahaya dari kunjungan Jokowi ke berbagai daerah ini adalah tendensinya untuk merusak budaya lokal,” kata Buni Yani, Senin (3/8/2026).
Ia menyinggung polemik pemberian gelar adat kepada Jokowi di Lampung yang dinilainya menghadirkan persoalan karena dianggap bertentangan dengan tradisi setempat.
Atas dasar itu, Buni juga mempertanyakan proses pemberian gelar adat kepada Jokowi di NTT dan menduga prosesi tersebut tidak terlepas dari kepentingan politik.
“Pemberian gelar adat di NTT buat Jokowi sangat potensial membawa masalah di kemudian hari,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Kabupaten Sukabumi Relatif Stabil, Bawang Merah dan Daging Ayam Alami Kenaikan
Jokowi sebelumnya resmi menyandang gelar Sesepuh Raja-Raja Timor setelah dinobatkan oleh delapan raja yang memiliki wilayah kerajaan di Pulau Timor pada Sabtu (1/8/2026).
Prosesi penobatan berlangsung dalam rangkaian Karnaval Gajah di kawasan Pantai Lahi Lai Besi Kopan (LLBK), Kota Kupang, NTT.
Raja Amanatun Jonathan Banunaek mengatakan penobatan tersebut dilakukan secara langsung oleh delapan raja yang memiliki wilayah kerajaan di Pulau Timor.
The post Gelar Adat untuk Jokowi di NTT Disorot, Dinilai Berpotensi Merusak Budaya Lokal first appeared on Sukabumi Ku.




