Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita UtamaSukabumi

Hasil Polling Indo Satu Media Group Sebut Ekonomi Indonesia Memburuk; Nyalakan Alarm Kuning!

×

Hasil Polling Indo Satu Media Group Sebut Ekonomi Indonesia Memburuk; Nyalakan Alarm Kuning!

Sebarkan artikel ini
Example 468x60


Sumber: Radar Sukabumi

SUKABUMI – Analis politik ekonomi Indonesia, Ichsanuddin Noorsy, memberikan tanggapan terhadap polling Indo Satu Media Group edisi 18 – 21 Mei 2026. Polling pertama, Senin, 18 Mei 2026 memunculkan pertanyaan “Menurut kamu, bagaimana kondisi perekonomian Indonesia saat ini?”. Sebanyak 19,34 persen, voters memilih BAIK, 80,51 persen menilai BURUK dan 0,15 persen memilih jawaban TIDAK TAHU.

Example 300x600

Noorsy mengatakan telah memberikan peringatan berturut-turut sejak 2023, 2024, dan 2025. Pada 2026, dalam suatu kesempatan, lagi-lagi disampaikan presentasi ke beberapa pihak terkait, salah satunya tokoh perbankan di Jawa Timur dan Ikatan Doktor Ekonomi.

“Ekonomi Tertatih, Pertumbuhan Tersendat, Si Kecil Terseok-seok itu di tahun 2024. Di Tahun 2025 judul presentasinya lebih gak enak. Yaitu Tujuh Sebab Kelumpuhan Ekonomi. Itu pun dipresentasikannya jauh sebelum perang Amerika-Israel terhadap Iran. Di Januari 2026 presentasi tersebut diulangi. “Bahkan menjadi artikel di mana-mana,” kata Noorsy membuka wawancara kepada Radar Sukabumi.

Menurut pandangan Noorsy, poin pertama, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang merupakan lembaga pencegah dan penanganan krisis sistem keuangan negara, tidak punya kepekaan terhadap situasi internal dan eksternal. Pada 2023 menurun daya beli masyarakat kelas menengah dan ditandai dengan purchasing manager index yang fluktuatif di kisaran 50. Kemudian pada 2024, tanda-tanda undisbursed loan atau utang yang disetujui tapi tidak dicairkan sudah merangkak naik.

“Alokasi belanja yang tidak punya leverage, bahkan hari ini kita dapetkan bukti lagi alokasi-alokasi itu banyak yang tidak efektif, 12,4 triliun itu yang BGN. Yang paling menarik adalah, saya sudah menengarai beban bawaan yang datang dari Joko Widodo, kelihatan pada kereta Whoosh dan pada PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Ditambah lagi dengan Incremental Capital Output Ratio atau ICOR yang menunjukkan angka 6,6.

Artinya, kata Noorsy, pembangunan yang dilakukan oleh era Joko Widodo saat sebagai Presiden RI selama dua periode, banyak terjadi kebocoran. Bank Dunia pun seolah membenarkan lewat research-nya, bahwa biaya logistik membangun infrastruktur di Indonesia hanya turun 0,3 atau tepatnya dari 24 menjadi 23,7 prosen. “Artinya, harga logistik di Indonesia tidak mampu bersaing dengan harga logistik di luar Indonesia, dengan negara tetangga³,” tutur Noorsy.

Menanggapi polling kedua, “Apakah ekonomi indonesia dipengaruhi terus melemahnya dolar terhadap rupiah?” yang menjawa YA sebanyak 78,51 persen dan yang menjawab TIDAK 21,44 persen. Noorsy menyebutkan sejumlah judul artikel ilmiahnya yakni “Tujuh Indikator Kelumpuhan Ekonomi” dan “Kolonisasi Mental yang Membuat Kita Menjadi Penakut” dan “Lima Penyebab Kejatuhan Rupiah”.

“Tentang rupiah yang bersandar pada dolar, Ishan Nidhi, menurut saya menyebut sebagai rupiah bersandar pada ekonomi khayalan. Kalau bahasa sederhananya, ekonomi Indonesia bersandar pada dunia fantasi. Yang fantasi tadi ditentukan oleh Washington. Karena Indonesia bersandar pada Nixon-Sox yaitu kebijakan Amerika pada 1571, lalu kemudian Indonesia bersandar lagi pada Washington Consensus. Itu semua menggambarkan Indonesia bersandar pada ekonomi dunia fantasi, saya menyebutnya ekonomi khayalan,” papar Noorsy.

“Ya, jadilah kayak gini. Jadi kalau Prabowo menyatakan ini disebabkan oleh sistem, mestinya dia sadar bahwa perbaikan sistem itu, itu perbaikan pendekatan struktural, fundamental, dan fungsional namanya,” imbuhnya.

Kemudian, pertanyaan poling ketiga yaitu “Apa tanda ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja?” Yang memilih jawaban CARI KERJA SUSAH sebanyak 56,48 persen dan yang memilih jawaban HARGA-HARGA TERUS NAIK sebanyak 42,84 persen. Sedangkan yang menjawab lainnya 0,69 persen.

Menurut Noorsy, hal ini menunjukkan sektor perbankan dalam status wait and see. “Sehingga mereka pergi ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Lalu, sektor real dalam posisi mesin produksinya nyaris berhenti. Dan, tidak ada perbaikan daya beli,” jelas Noorsy.

UMKM pun, kata Noorsy lagi, mengalami tekanan karena Non-Performing Loan (NPL) mencapai sekira 4,6 dan penyodoran kredit yang tersendat serta pasar juga memiliki permintaan yang cukup. “Ya, sudah pasti perekonomian tidak baik dengan tiga tekanan itu. Jadi, sektor moneternya tertekan, sektor fiskalnya tertekan, sektor realnya tertekan. Jadi, ekonomi kita sedang tidak baik-baik ,” papar Noorsy.

Hal ini semua disebabkan sejumlah lah. Pertama, kata Noorsy, hajat hidup masyarakat Indonesia harus bebas pada impor. Kedua, bagaimana kehidupan masyarakat tidak bersandar pada ekonomi khayalan. Kemudian, harus dapat memilah dan memilih antara sektor komersial, sektor kebutuhan hidup, dan sektor kuasi. Hal keempat, bagaimana upaya perbaikan terhadap kultur hukum dan peradilan dalam negeri agar tidak bisa dijualbelikan.

“Yang kelima yang gak enak ini, bagaimana memperbaiki iklim politik, sosial politik. Sehingga meningkatkan kepercayaan publik. Kondisi sosial politik kita lebih banyak ditandai oleh pengkhianat. Ditandai oleh para pemburu rente. Ditandai dengan kebanyakan medioker. Ditandai dengan ketidakpedulian sejumlah orang di level atas, di elit, yang mau tertawa bahagia di atas penderitaan rakyat. Sehingga kepercayaan publik terhadap pemerintahan dan situasi perekonomian itu rendah. Yang saya mau bilang, butir kelima adalah Indonesia sudah masuk dalam lampu kuning krisis peradaban,” tegas Noorsy.

Dan polling keempat, “Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi Indonesia?” Pemilih GANTI KEBIJAKAN sebanyak 39,63 persen, pemilih GANTI PEJABAT sebanyak 59,12 persen dan yang menjawab LAINNYA atau TIDAK TAHU sebanyak 1,24 persen. Noorsy mengatakan, banyaknya permintaan publik untuk mengganti pejabat membuktikan bahwa reformasi telah mengajari masyarakat tentang politik praktis yang tidak sehat. “Akar masalah bukan di pejabat, tapi di sistem,” cetus Noorsy.

Sebagian masyarakat memang hanya mengerti tentang kebijakan. Akan tetapi yang perlu dipahami bahwa kebijakan tergantung pada sistemnya. Noorsy menyebutkan bahwa kebijakan berada pada faktor kedua. Sedangkan faktor pertama dan utama yaitu sistem.

“Jadi lima penyebab perekonomian Indonesia terdikte yaitu satu, sistem. Dua, kebijakan dan regulasi. Tiga, standarisasi asing. Empat, akuntabilitas dan validitas asing. Lima, reputasi dan kredibilitas yang ditentukan oleh asing. Nah yang memilih jawaban GANTI PEJABAT itu cuma butir kelima, soal reputasi dan kredibilitas saja. Nah reputasi dan kredibilitas orang-orang kayak gitu memang orang-orang yang tidak benar-benar bicara tentang kepentingan rakyat,” kata Noorsy.

Noorsy mengecam perilaku hedon para elit di Indonesia yang alih-alih peduli, justru bahagia di atas penderitaan rakyat. Salah satu indikatornya, cukup banyak terlihat di jalan raya para pejabat pemerintah menggunakan mobil kelas premium hasil dari timbunan hutang luar negeri.

“Bisa dilihat, misalnya bagaimana mobil berpelat pejabat pakainya Porsche dan sebagainya. Ya, pakai mobil yang satu Rp1 Miliaran gitu. Itu membuktikan mereka tidak peduli dengan kemiskinan, mereka tidak peduli dengan penderitaan rakyat, mereka tidak peduli dengan ekonomi terseok-seok. Ini pernah saya sampaikan secara terbatas kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019. Poinnya adalah betapa pentingnya membangun sense of crisis pada moralitas, intelektualitas, dan spiritualitas pejabat Indonesia. Sehingga mereka punya tanggung jawab atas amanat konstitusi. Dan hari ini kita lihat, saya bisa meyakini betapa miskinnya pejabat Indonesia yang memahami konstitusi. Yang memahami amanat konstitusi,” pungkas Noorsy. (izo)

The post Hasil Polling Indo Satu Media Group Sebut Ekonomi Indonesia Memburuk; Nyalakan Alarm Kuning! appeared first on Radar Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *