Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Kenaikan harga gas elpiji (LPG) nonsubsidi 12 kg dari Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 menambah beban masyarakat. Penyesuaian harga ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya, sehingga memperberat kondisi ekonomi warga.
Aditya Rohman, warga Kota Sukabumi sekaligus pengelola kafe, mengaku terkejut dengan kenaikan tersebut. “Lumayan juga Rp 40.000, berasa banget kenaikannya,” ujarnya, Senin (20/4/2026). Menurutnya, kenaikan harga energi akan memicu lonjakan harga kebutuhan lain di pasaran.
Keluhan serupa disampaikan Ardi (37), pengguna gas nonsubsidi selama lebih dari 30 tahun. Ia menilai kenaikan harga semakin membebani karena terjadi bersamaan dengan naiknya harga sembako dan BBM. “Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan,” ucapnya.
Terhimpit kondisi ekonomi, Aditya mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi 3 kg meski distribusinya kerap langka. “Karena punya tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau kosong, tetap pakai 12 kg,” katanya.
Sementara Ardi mulai melirik opsi beralih ke gas 5,5 kg agar pengeluaran lebih ringan. Berdasarkan laman resmi Pertamina Patra Niaga, harga Bright Gas 12 kg di wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp 228.000 per tabung. Di Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga bahkan tembus Rp 230.000 per tabung.
Respons Pemerintah
The post Jeritan Warga Sukabumi: Gas 12 Kg Tembus Rp 228 Ribu appeared first on Radar Sukabumi.











