KSSK: Stabilitas Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Global

JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang kuartal II 2026 meski tekanan global meningkat.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil rapat berkala KSSK III Tahun 2026 yang digelar pada 28 Juli 2026. Rapat dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa selaku Koordinator KSSK, Penjabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, dan Ketua LPS Anggito Abimanyu.

Purbaya mengatakan hasil asesmen menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan domestik masih terjaga di tengah meningkatnya risiko global.

Baca Juga : Resep Bakwan Keju Renyah, Camilan Gurih ala Restoran yang Mudah Dibuat

“Hasil assessment KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan II/2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kantor LPS, Senin (3/8/2026).

Menurut Purbaya, stabilitas tersebut tidak terlepas dari koordinasi kebijakan yang dilakukan antaranggota KSSK. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, meningkatnya inflasi global, volatilitas pasar keuangan, hingga pergeseran arus modal ke negara maju.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 berada di level 3 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1 persen.

Baca Juga : Resep Es Kopi Susu Gula Aren Creamy dengan Sentuhan Sea Salt

Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 5,6-6 Persen

Di tengah ketidakpastian global, KSSK masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,6-6 persen.

Pencapaian target tersebut akan didukung penguatan koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian serta fungsi intermediasi perbankan.

Hingga pekan ketiga Juli 2026, pertumbuhan uang primer tercatat mencapai 15,4 persen secara tahunan.

Pemerintah juga akan mengoptimalkan APBN untuk menjaga konsumsi rumah tangga melalui perlindungan sosial, subsidi energi, stimulus ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta proyek hilirisasi.

Purbaya menyebut pemerintah juga akan segera mengumumkan stimulus tambahan, termasuk insentif untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

“Kita juga akan memberikan beberapa stimulus kepada perekonomian. Dalam waktu dekat akan diumumkan stimulus untuk mobil dan motor listrik. Nanti Bapak Presiden akan mengumumkan,” ujarnya.

Meski demikian, Purbaya mengakui pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya akibat tekanan eksternal.

“Kalau kita lihat prediksi semua empat lembaga kelihatannya di bawah 5,6% untuk triwulan kedua, tetapi mungkin enggak jauh dari 5,4%. Jadi melambat, tapi enggak parah-parah amat,” katanya.

BI Perkuat Stabilitas Moneter

Sementara itu, Penjabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kebijakan moneter turut diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah meningkatnya tekanan global.

BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin secara akumulatif pada Mei dan Juni 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas.

“Sejak bulan Mei, stance kita terhadap stabilitas memang kita perkuat, antara lain dengan menaikkan suku bunga 100 basis poin,” ujar Destry.

Kebijakan tersebut mulai memberikan dampak terhadap aliran modal asing. Sepanjang kuartal II 2026, arus modal asing kembali masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan nilai sekitar US$9 miliar.

Aliran modal tersebut turut memperkuat cadangan devisa dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Di sisi inflasi, volatile food berhasil ditekan menjadi sekitar 2,5 persen, sementara inflasi inti berada di level 2,76 persen dan inflasi umum turun menjadi 2,88 persen.

Kredit Perbankan Tumbuh 12,67 Persen

Dari sektor perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat fungsi intermediasi terus menguat hingga pertengahan 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan menjadi Rp9.809 triliun. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 11,51 persen.

Pertumbuhan kredit terutama ditopang kredit investasi yang tumbuh 24,9 persen secara tahunan. Kredit modal kerja meningkat 8,94 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,75 persen.

“Ini didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 24,9%, diikuti kredit modal kerja sebesar 8,94%, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,75%,” ujar Friderica.

Dana pihak ketiga (DPK) juga masih menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga Juni 2026, DPK meningkat 10,21 persen secara tahunan menjadi Rp10.281,8 triliun.

Pertumbuhan DPK tersebut ditopang giro sebesar 9,95 persen, tabungan 8,25 persen, dan deposito 12,16 persen.

Ketahanan industri perbankan juga tetap terjaga. Rasio kecukupan modal atau CAR berada pada level 23,7 persen. Sementara rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 101,92 persen dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 23,08 persen.

“Ini jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%,” kata Friderica.

Pertumbuhan kredit masih didominasi segmen korporasi yang meningkat 18,39 persen secara tahunan. Sementara kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai kembali tumbuh positif sebesar 0,6 persen.

Simpanan Masyarakat Masih Terjaga

Ketahanan sistem keuangan juga tercermin dari kemampuan masyarakat dan dunia usaha dalam menyimpan dana di perbankan.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan pertumbuhan simpanan masih positif pada seluruh kelompok nominal hingga Juni 2026.

Pertumbuhan tahunan simpanan berada pada kisaran 0,78-15,44 persen, yang menunjukkan kemampuan menabung rumah tangga maupun korporasi masih terjaga di tengah ketidakpastian global.

“Hal ini memberikan indikasi bahwa secara rerata agregat kemampuan menabung di semua kelompok masih terjaga lintas waktu,” ujar Anggito.

LPS mencatat simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan. Pada kelompok rumah tangga, simpanan di bawah Rp5 juta meningkat 7,36 persen, sedangkan simpanan Rp5 juta hingga Rp10 juta tumbuh 10,01 persen.

Untuk kelompok simpanan yang lebih besar, saldo Rp100 juta hingga Rp200 juta meningkat 4,2 persen, Rp200 juta hingga Rp500 juta tumbuh 3,07 persen, dan kelompok Rp500 juta hingga Rp1 miliar naik 2,32 persen.

Sementara itu, simpanan Rp1 miliar hingga Rp2 miliar meningkat 2,67 persen dan kelompok Rp2 miliar hingga Rp5 miliar tumbuh 0,78 persen.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada simpanan di atas Rp5 miliar yang meningkat 15,44 persen secara tahunan, dengan mayoritas dana berasal dari korporasi.

KSSK Waspadai Risiko Global

Selain menjaga stabilitas sistem keuangan, LPS juga terus memantau tingkat inklusi keuangan. Hingga saat ini, jumlah penduduk yang belum memiliki rekening diperkirakan mencapai sekitar 46,5 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 15,3 juta orang merupakan penduduk usia produktif. Angka tersebut diproyeksikan turun menjadi sekitar 13,5 juta orang pada akhir 2026.

KSSK menegaskan koordinasi antarlembaga akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat ketidakpastian global masih tinggi dan berbagai risiko eksternal berpotensi memengaruhi perekonomian domestik.(SE)

The post KSSK: Stabilitas Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Global first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *