Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sukabumi masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Salah satu persoalan utama adalah miskomunikasi terkait skema anggaran, yang memicu persepsi keliru di masyarakat.
Asisten Lapangan (Aslap) Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Karamat Gunungpuyuh, Muhamad Maulana Azis, menilai kendala lebih banyak disebabkan oleh minimnya edukasi. Ia menjelaskan bahwa anggaran MBG bersifat fluktuatif karena menyesuaikan harga bahan makanan.
“Sering kali masyarakat melihat dari satu hari saja, padahal anggaran itu tidak statis. Ada naik turun tergantung kebutuhan dan harga bahan,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Menurut Azis, perhitungan anggaran sebaiknya dilihat dalam rentang waktu tertentu, misalnya dua mingguan, agar gambaran rata-rata lebih objektif. Dengan cara itu, evaluasi penggunaan anggaran bisa lebih adil, termasuk kemungkinan adanya sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) yang dikembalikan ke pemerintah.
Selain anggaran, Azis menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan, khususnya dapur penyedia makanan.
“Karena ini menyangkut pelayanan, maka komunikasi harus terbuka dan responsif. Jangan sampai ada miskomunikasi yang berdampak ke lapangan,” katanya.
Koordinasi lintas pihak juga menjadi faktor penting. Di sejumlah titik, evaluasi rutin dilakukan setiap bulan dengan melibatkan tenaga ahli gizi, akunting, sekolah, hingga relawan. Evaluasi mencakup menu, distribusi, hingga penyesuaian jadwal dengan aktivitas sekolah.
The post MBG di Kota Sukabumi Terkendala Persepsi, Perlu Komunikasi Dua Arah appeared first on Radar Sukabumi.













