Studi Terbaru: Makan Sayur dan Buah Lebih Banyak Bisa Lindungi Otak dari Demensia

JAKARTA – Penelitian terbaru mengungkap bahwa pola makan yang mampu mengurangi peradangan dalam tubuh atau dikenal sebagai pola makan antiinflamasi berpotensi membantu menekan risiko demensia. Temuan ini bahkan berlaku pada orang yang memiliki risiko biologis lebih tinggi terhadap penyakit Alzheimer.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open tersebut melibatkan lebih dari 1.800 orang berusia 60 tahun ke atas di Swedia yang belum mengalami demensia saat penelitian dimulai.

Para peneliti mengevaluasi pola makan peserta selama enam tahun melalui kuesioner rinci. Selain itu, mereka juga mengukur sejumlah biomarker dalam darah yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan kerusakan sel saraf. Seluruh peserta kemudian dipantau hingga 15 tahun untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatannya.

Baca Juga: Namanya Terseret Penyelidikan Polri, Jampidsus Febrie Buka Suara

Selama masa pemantauan, sebanyak 240 peserta didiagnosis mengalami demensia. Analisis menunjukkan bahwa peserta yang menerapkan pola makan dengan potensi inflamasi lebih rendah memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami penyakit tersebut.

Manfaat paling menonjol terlihat pada kelompok yang memiliki kadar biomarker Alzheimer p-tau217 tinggi. Pada kelompok ini, pola makan antiinflamasi dikaitkan dengan penurunan risiko demensia hingga 29 persen. Hasil serupa juga ditemukan pada peserta yang memiliki biomarker lain yang berkaitan dengan cedera sel saraf dan peradangan.

Dokter spesialis kegawatdaruratan sekaligus profesor klinis di George Washington University, Dr. Leana Wen, mengatakan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa gaya hidup masih berperan penting dalam menjaga kesehatan otak.

Baca Juga: Kebakaran Landa Area IPSRS RSUD Sekarwangi Sukabumi, Damkar Kerahkan Empat Armada

“Ini merupakan pesan yang menggembirakan karena kita masih memiliki faktor risiko yang bisa dimodifikasi. Kita tidak dapat mengubah usia atau faktor genetik, tetapi kita bisa membuat pilihan yang berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik,” ujar Wen.

Ia menjelaskan bahwa tidak ada diet resmi yang disebut sebagai pola makan antiinflamasi. Istilah tersebut merujuk pada pola konsumsi makanan yang membantu menekan peradangan kronis di dalam tubuh.

Dalam penelitian tersebut, peserta tidak diminta mengikuti diet tertentu. Peneliti hanya menghitung tingkat potensi inflamasi berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Baca Juga: Dua Desa Bersaing Rebut Tiket ke Tingkat Kabupaten, Kecamatan Jampangkulon Gelar Penilaian Anugerah Desa Mubarokah

Secara umum, pola makan antiinflamasi lebih banyak mengandung sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, polong-polongan, biji-bijian utuh, ikan, minyak zaitun, dan sumber lemak sehat lainnya. Sebaliknya, konsumsi makanan ultra proses, minuman tinggi gula, dan daging merah dianjurkan untuk dibatasi.

Menurut Wen, pola makan tersebut memiliki kemiripan dengan diet Mediterania yang selama ini dikenal memberikan manfaat bagi kesehatan jantung maupun otak.

“Pesan utamanya bukan bahwa hanya ada satu pola makan yang ideal, tetapi memilih makanan utuh yang minim proses dan membatasi makanan ultra proses tampaknya memberikan manfaat bagi banyak aspek kesehatan, termasuk kesehatan otak,” katanya.

Meski demikian, Wen mengingatkan bahwa demensia merupakan penyakit yang dipengaruhi banyak faktor. Selain pola makan, risiko penyakit ini juga berkaitan dengan usia, faktor genetik, penyakit pembuluh darah, gangguan pendengaran, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol berlebihan.

The post Studi Terbaru: Makan Sayur dan Buah Lebih Banyak Bisa Lindungi Otak dari Demensia first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *