Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Ponpes Al-Fath menggelar kajian naskah kuno tahap keenam di Museum Prabu Siliwangi, dengan fokus pada tema “Patambaan Siliwangi”. Kajian ini menelusuri sistem pengobatan tradisional Sunda yang lama terpinggirkan.
Penelitian tahap awal difokuskan pada identifikasi struktur manuskrip. Dari inventarisasi, ditemukan sedikitnya 29 naskah kuno berusia lebih dari setengah abad yang tergolong artefak filologis penting.
Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH. M. Fajar Laksana, menilai potensi pengetahuan dalam naskah sangat besar. “Dari tahap awal saja sudah terlihat puluhan tema besar. Ini menunjukkan kekayaan intelektual luar biasa dari masyarakat masa lalu,” ujarnya, Rabu (15/4).
Salah satu tema menonjol adalah patambaan atau praktik pengobatan tradisional. Terjemahan awal mengungkap lebih dari 25 jenis tanaman khas Sunda dengan khasiat medis, menunjukkan sistem pengobatan herbal terstruktur jauh sebelum hadirnya medis modern.
Fajar menekankan, pengetahuan tersebut bukan sekadar tradisi lisan, melainkan sistem terdokumentasi dan terbukti empiris. Ia bahkan menemukan keselarasan antara isi manuskrip dengan praktik pengobatan turun-temurun di keluarganya.
Kajian sementara memperkirakan naskah berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Nilai historisnya membuka peluang pengajuan status cagar budaya dan warisan budaya tak benda.
Ilham Nurwansah dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat menambahkan, salah satu naskah setebal 148 halaman ditulis dalam bahasa Jawa dialek Cirebon dengan aksara Jawa. Isinya mencakup pengobatan herbal, penanggalan, perhitungan hari baik, hingga ilmu perbintangan.
The post Naskah Kuno Sunda Bongkar Tradisi Pengobatan Herbal appeared first on Radar Sukabumi.











